Pasaman, Jelitapos.my.id
Ditengah keterbatasan fiskal dan tuntutan efisiensi anggaran birokrasi, pemerintah daerah dituntut tetap kokoh mengayomi serta melayani masyarakat. Tidak boleh surut. Setiap program untuk rakyat harus tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Menghadapi efisiensi fiskal tentu bukan perkara mudah, namun juga bukan sesuatu yang mustahil. Dengan tata kelola anggaran yang disiplin, inovasi dalam menggali sumber pendapatan, serta kolaborasi lintas sektor yang optimal, pemerintah daerah diyakini tetap mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah keterbatasan.
Berbeda halnya ketika anggaran berlimpah program dapat disusun dengan leluasa, bahkan berpotensi mengabaikan skala prioritas. Namun dalam keterbatasan, setiap kebijakan justru diuji ketepatan dan keberpihakannya.
Inilah tantangan nyata yang dihadapi kepala daerah, termasuk Bupati Pasaman Welly Suhery. Kondisi tersebut menuntut pemerintah daerah untuk lebih inovatif, kreatif, dan strategis dalam merumuskan kebijakan.
Kabupaten Pasaman, dengan 12 kecamatan dan 62 nagari serta jumlah penduduk sekitar 318,08 ribu jiwa di wilayah seluas 3.947,63 km persegi (Pasaman Dalam Angka; BPS 2024), bukanlah daerah kecil yang mudah dijangkau seluruh kebutuhannya secara merata. Di sisi lain, ketergantungan pada dana transfer pusat serta struktur belanja yang belum sepenuhnya optimal menjadi tantangan pembangunan yang nyata.
Momentum inilah yang dimanfaatkan Bupati Welly untuk merumuskan strategi pembangunan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Sebab pada akhirnya, setiap terobosan akan bermuara pada ketersediaan anggaran.
Sejak dilantik pada 30 Mei 2025, Welly Suhery dituntut berani menggeser paradigma dari _money follows function_ menjadi _money follows program._ Yakni memastikan setiap anggaran benar-benar berdampak langsung bagi masyarakat.
Sebegitu detailnya Bupati Welly menelaah, sehingga paradigma dari money follow function ke money follow program yang telah diatur melalui PP No. 17 Tahun 2018 ini benar-benar mampu ia laksanakan secara konkrit dilapangan.
Salah satu bentuk komitmen riil nya terhadap _money follows program_ adalah terkait komitmen program kesehatan gratis yang menyedot anggaran begitu besar, namun tetap menjadi prioritas diupayakan.
Ini didorong oleh kondisi kebutuhan masyarakat. Keberanian Bupati Welly terbukti ketika banyak daerah lain yang telah menyerah untuk mengalokasikan anggaran program ini karena keterbatasan fiskal, namun Welly Suhery tetap berupaya menjalankan program ini ditengah badai efisiensi.
Di sisi lain, menghadapi tradisi birokrasi yang sudah mengakar menjadi kebiasaan tidaklah mudah. Bahkan meskipun sudah banyak _tagline_ di pemerintahan, “mari membiasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa”.
Situasi ini terpaksa mendorong Bupati Welly untuk menggeser cara dan paradigma, dengan fokus penganggaran dari berbasis struktur organisasi menjadi berbasis prioritas hasil yang bisa langsung dirasakan oleh masyarakat yang di pimpinnya.
Mantan anggota DPRD Pasaman ini mampu mencermati dengan seksama, jika sebelumnya prinsip pengalokasian anggaran berdasarkan tugas fungsi atau struktur unit kerja/satuan kerja, dimana anggaran dibagi rata atau berdasarkan porsi historis unit organisasi, bukan pada dampak program.
Kemudian, Ia geser perlahan menjadi anggaran dialokasikan pada program atau kegiatan prioritas yang berdampak langsung pada masyarakat, tanpa terikat pada satu unit kerja tertentu. Program prioritas atau unggulan didanai, sementara program non-prioritas dikurangi.
Salah satunya, Program Universal Health Coverage (UHC) atau Jaminan Kesehatan Semesta dengan pendekatan penganggaran dimana alokasi dana diberikan berdasarkan fungsi atau kewenangan pelayanan kesehatan yang diserahkan kepada daerah atau lembaga, guna menjamin seluruh penduduk mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau terbukti sukses dan berhasil.
Bukan itu saja, berbagai terobosanpun ia lakukan, meski dengan sepucuk surat edaran, Lebih efisien dalam menghindari tumpang tindih fungsi _(overlapping)_ kegiatan antarunit. Seperti pelaksanaan program unggulan melalui Organisasi Perangkat Daerah (OPD) sebagai pengampunya.
Bupati Welly berharap, seluruh kinerja terukur berdasarkan capaian tupoksi unit, karena ia sadar, kelemahan Sering kali menghasilkan “ego sektoral” di mana uang habis untuk operasional unit, bukan hasil nyata bagi masyarakat di Pasaman.
Pada sisi lain, Bupati Welly Suheri teguh, Lebih efisien dalam mencapai target pembangunan karena dana difokuskan pada program yang terbukti efektif.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat Pasaman patut melihat sekaligus menilai bahwa kepemimpinan yang kuat dan visi yang jelas menjadi kunci. Pada masa awal pemerintahannya, Welly telah meletakkan fondasi pembangunan sebagai arah kebijakan lima tahun ke depan.
Melalui perencanaan strategis yang terukur, ia menata program dan kegiatan secara sistematis, sekaligus menghadirkan program-program riil sebagai lompatan percepatan pembangunan. Langkah ini menjadi bukti kecermatan dalam membaca situasi fiskal yang terbatas.
Berbagai alternatif percepatan pun diramu agar masyarakat tetap merasakan manfaat pembangunan.
Sejak awal kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Parulian, sejumlah terobosan mulai dijalankan melalui program unggulan.
Di tengah keterbatasan, Kabupaten Pasaman tetap mampu berdiri sejajar dengan daerah lain melalui implementasi program-program tersebut. Hal ini terlihat dari mulai berjalannya sejumlah program unggulan yang telah dirancang.
Komitmen kepemimpinan Bupati Welly tercermin dari konsistensinya dalam mengukur implementasi 10 program unggulan secara berkala. Evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap capaian program, tetapi juga terhadap aparatur pelaksana di lapangan.
Dalam 100 hari kerja pertama, sejumlah program unggulan telah diluncurkan dan dijalankan. Program yang telah berjalan di antaranya Gerakan Nagari Bangkit (Bangga Memakmurkan Masjid Berbasis ABS-SBK), layanan berobat dan ambulans gratis (SIGAP), pendidikan dan seragam sekolah gratis, serta ASN Bangkit (Bangga Melayani, Berkomitmen, dan Berintegritas).
Program lainnya juga menyentuh sektor pertanian melalui Bajak Gratis dan optimalisasi pupuk bersubsidi yang telah diluncurkan di Nagari Jambak, Kecamatan Lubuksikaping. Selain itu, terdapat program 1.000 lapangan kerja, rumah tidak layak huni, pusat kreativitas anak nagari, pemutakhiran data penerima PKH, hingga nagari tangguh bencana.
Tak hanya itu, sejumlah wilayah 3T di Pasaman kini mulai menikmati layanan internet gratis, khususnya di fasilitas kesehatan, yang ke depan akan diperluas ke sektor pendidikan dan masyarakat umum.
Implementasi seluruh program unggulan ini terus diukur secara sistematis. Dalam waktu dekat, pemerintah daerah akan melakukan evaluasi satu tahun kepemimpinan yang bertepatan dengan akhir Mei 2026.
Evaluasi ini menjadi indikator penting untuk menilai sejauh mana masyarakat merasakan manfaat program.
“Pada tahap ini kita akan melihat faktor keberhasilan maupun kendala, agar langkah ke depan semakin tepat,” ujar Welly Suhery.
Ia menegaskan, apabila kendala terletak pada anggaran, solusi akan segera dicari. Begitu pula jika hambatan berada pada sumber daya manusia, evaluasi akan menjadi dasar pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Bagi Welly, mewujudkan program unggulan Pasaman Bangkit adalah komitmen yang tidak bisa ditawar. Fondasi pembangunan telah ditanamkan, baik melalui dokumen formal seperti Renstra dan Renja, maupun melalui program unggulan sebagai akselerator pembangunan.
“Sepuluh program unggulan ini kami susun untuk masyarakat. Alhamdulillah, satu per satu mulai berjalan setelah melalui proses panjang dan evaluatif,” ujarnya, Senin (6/5/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja bersama yang berkesinambungan. Evaluasi berkala akan terus menjadi motivasi bagi seluruh jajaran pemerintah dan masyarakat untuk melangkah lebih baik.
Welly juga menyinggung program Bajak Gratis yang sempat menuai perdebatan di awal, namun kini telah berjalan dengan dukungan aplikasi BAGUS sebagai bagian dari transformasi digital di Pasaman.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu menegaskan, kemajuan Pasaman tidak boleh berhenti pada dokumen perencanaan semata, melainkan harus dirasakan nyata oleh masyarakat.
“Ke depan, indikator Pasaman Bangkit akan terlihat dari pendidikan, kesehatan, pembangunan fisik, dan aspek lainnya. Kita ingin kemajuan yang berkarakter dan berkelanjutan,” katanya.
Partisipasi seluruh elemen masyarakat pun menjadi kunci. Welly menegaskan komitmennya untuk tetap berada di garis depan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Pasaman.
“Mari kita teguhkan niat bersama, mewujudkan Pasaman Bangkit yang berkarakter, maju, dan berkelanjutan,” tutupnya. (Noel)












