Jelitapos.my.id – Kabupaten Konawe Utara – Suara nurani sang putra asli Konawe Utara tentang rusaknya lingkungan demi keuntungan sesaat di Mandiodo, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara, pada Minggu (29/11/2025).
Sapaan Om Jhon, cerita tambang sama dengan menggadaikan masa depan anak cucu kami, tanah yang subur kini menjadi luka, air yang jernih kini keruh dan beracun dan laut yang menjadi sumber penghasilan kini tercemar” ungkapnya.
“Satu tanda tangan IUP membungkam suara alam dan ribuan pohon yang menjadi paru-paru dunia kini tumbang, berganti dengan lubang-lubang galian yang menganga,” miris.
Ironis, mereka datang dengan janji untuk kesejahteraan, namun tetapi meninggalkan kami dengan bencana dan cerita duka.
Dijelaskannya, IUP yang ada di Kecamatan Mandiodo, Konawe Utara ini bukan anugerah, melainkan malapetaka. Bukan tambang Ore Nikel yang diwariskan, tetapi tanah yang mati dan air yang tercemar,” resahnya.
Lanjut Om Jhon, IUP ini adalah bom waktu bagi lingkungan kami. Dampak sosial dan kemanusiaan di atas tumpukan mineral, ada air mata petani yang kehilangan kebunnya dan di balik masifnya penggalian tanah, ada jeritan nelayan yang kehilangan lautnya,” katanya.
Menurutnya, IUP ini adalah surat izin untuk mengusir kami dari tanah leluhur. Kekayaan alam kami dirampas, diganti dengan penderitaan dan kemiskinan. Kami menolak IUP, kami bukan alat produksi dan kami adalah manusia yang berhak hidup damai di tanah kami sendiri. Diketahui satu IUP menghancurkan ribuan tradisi, meruntuhkan budaya, dan membungkam suara-suara minoritas dan juga IUP ini adalah genosida budaya,” tuturnya.
Untuk itu, terkait keadilan dan hukum
Ijin Usaha Pertambangan (IUP) ini hanyalah legalitas untuk praktik ketidakadilan. Dinilai hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah, aturan dibuat untuk melindungi korporasi, bukan rakyat. Ingat kekayaan alam ini milik bangsa, bukan segelintir korporasi. IUP ini adalah bukti pengkhianatan terhadap amanat konstitusi dan keadilan tidak bisa dibeli dengan harga mineral,” ujar Om Jhon.
IUP ini adalah aib bagi hukum yang seharusnya melindungi rakyatnya, berapa harga satu helai kemiskinan dibandingkan keuntungan korporasi? IUP ini adalah bukti bahwa masyarakat kami tidak ada harganya bagi mereka, lihatlah!..laut yang dulu menjadi sumber kehidupan kami, kini tak lebih dari kuburan bagi ikan-ikan di laut,hasil kebun tak lagi busa menjadi sumber penghasilan.Semua karena IUP ini! Kami tidak butuh janji manis. Kami butuh janji bumi. Janji untuk tidak lagi dihancurkan.
Untuk itu, mengawali suara keadilan dengan tegas meminta kepada pihak terkait Cabut seluruh IUP yang ada di wilayah Mandiodo dan sekitarnya, karena kehadiran mereka tidak memberikan dampak yang baik bagi kelangsungan hidup anak cucu kami, untuk menikmati bumi yang menjadi surga kehidupan yang damai. Terkhusus saya meminta agar kita semua membuka mata, dengan apa yang sedang terjadi di IUP. OP Cinta Jaya. Mengetuk nurani seluruh pihak dan instansi terkait, untuk turun melihat dan jika diperlukan mencabut IUP OP PT. Cinta Jaya yang diduga syarat dengan praktek penambagan yang tidak sesuai dengan SOP dan kaidah pertambangan, terakhir mari bersama kita selamatkan bumi Konawe Utara demi kelangsungan masa depan anak cucu kita,” pungkasnya.
Editor: Nurwindu.Nh












